Drama Politik Indonesia 2014

18 Mar

image

Tahun 2014 memiliki makna yang sangat penting untuk bangsa Indonesia, karena di tahun ini akan ada pelaksanaan dua agenda besar dalam sistem demokrasi yang tertera dalam konstitusi. Pertama akan diselenggarakannya Pemilu Legislatif (Pileg) pada tanggal 9 April 2014, dan yang kedua adalah Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tanggal 9 Juli 2014. Sempat pula dua acara yang berbeda waktu itu menimbulkan perdebatan dan jadi trending topik politik, karena dalam pelaksanaan dua acara tersebut berbeda waktu yang berimplikasi pada pemborosan anggaran negara dan inkonstitusional.

Berbagai problematikapun muncul penyimpangan yang mewarnai esensi proses demokrasi untuk memilih wakil rakyat dan Presiden periode 2014-2019. Munculah arogansi dan ambisi untuk merebut kekuasaan. Tak jarang pula sering dijumpai dengan menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Tentu ini bukan contoh dan torehan warisan sejarah yang baik untuk generasi penerus bangsa. Money Politik begitu menjadi penentu kemenangan untuk menduduki kursi kepemimpinan. Merampok uang negara sebagai modal pencalonan dan pemenangan.

Jika proses yang tidak baik seperti ini menjadi kebiasaan turun-temurun dan tidak adanya revolusi lunak sebagai langkah perbaikan, maka bangsa ini akan jauh dari cita-citanya yang ingin mensejahterakan rakyat.

Hal ini tentu harus diselesaikan dengan memfungsikan stakeholder yang ada. Bagaimana memberikan kesadaran terhadap semua elemen untuk berperan membawa proses demokrasi bangsa ini sehat. Sebut saja persoalaan money politik yang membawa dampak negatif. Dengan coz politik yang besar membuka kesempatan untuk jadi wakil rakyat membuat pintu keberhasilan terbuka lebar, jika sudah jadi tentu ingin balik modal dan menambah tabungan. Fenomena tersebut menjadi masalah yang menghambat pembangunan karena anggaran bocor dikorupsi untuk balik modal dan memperkaya diri.

Perumusan masalah yang muncul atas fenomena itu adalah bagaimana cara memilih wakil rakyat dan pemimpin yang bisa mensejahterakan bangsa?
Pilihlah wakil rakyat atau pemimpin yang memiliki track record baik. Dalam artian memiliki jejak rekam yang kredibilitas dan integritasnya baik (tidak pernah terlibat korupsi, kolusi, dan nepotisme).

Fakta 2014 money politik masih menjadi jurus ampuh para calon. Bagaimana cara menyikapi hal tersebut?
Sebagai pemilih (konstituen) kita harus berani menolak pemberian uang untuk ongkos memilih.
Pilihlah wakil rakyat atau pemimpin yang bersih dan tanpa ongkos memilih.

Lalu bagaimana jika ada calon tanpa uang akan tetapi dia memiliki arogansi?, apakah harus dipilih, dan itu sebagai tanda konstituen menolak money politik? Padahal terkadang ada calon dengan money politik lebih baik daripada yang tidak pakai uang. Bagaimana menentukan pilihan yang dilematis itu?
Pada intinya pilihan yang benar adalah memilih yang terbaik diantara yang mencalonkan diri untuk bisa membawa perubahan dinamis untuk bangsa ini. Dan jangan pilih orang yang memiliki arogansi.

Nasib bangsa Indonesia untuk memulai perubahan, ditentukan oleh pilihan kita sebagai konstituen untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat yang bisa membawa perubahan agar lebih baik. Untuk itu kita semua sebagai pemilih harus menggunakan hak pilih dengan tepat.  Pilihlah calon yang amanah agar  bisa membawa masa depan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan sejahtera.

Penulis/Editor : Muhammad Widad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: