Abdul Aziz : Artikulasi Politik Umat

29 Jun

Gambar

Photo : Dok. Abdul Aziz

 

Karakter sikap dan politik partai sangat dipengaruhi oleh pilihan subjektif partai itu sendiri. Subjektifitas ini berakar pada konstruksi nilai, budaya, dan karakter dasar yang mempengaruhi cara berfikir dan respons politik partai. Berdasarkan konsep pemikiran itu, konstruksi maupun corak pemikiran dan sikap politik yang terbentuk, serta implementasinya dalam menjalankan fungsi agregasi dan artikulasi politik partai-partai Islam menjadi pemaparan yang penting untuk dikaji.

Sejak wacana ‘matinya ideologi’ dikemukakan oleh Daniel Bell (The End of Ideologi in the West – 1990), para ilmuwan dan khususnya para politisi di berbagai belahan dunia berusaha melihat kembali vitalitas perangkat-perangkat nilai yang saat itu digunakannya sebagai ideologi. Upaya-upaya tersebut tidak sepenuhnya benar, dan cenderung bersifat reduksionis. Di sisi lain, terutama negara-negara yang didominasi oleh praktik de-ideologisasi, tesis Bell diterima bak ‘bacaan wajib’ dalam penanaman nilai-nilai kewarganegaraan. Nilai-nilai baru yang muncul belakangan meski tidak dinamai sebagai ideologi, diperlukan dan ditempatkan layaknya suatu ideologi. Ironisnya, satu dua nilai baru diantaranya justru kembali mempertanyakan tesis Bell. Kompleksitas munculnya ‘ideologi’ baru tersebut bahkan memperjelas suatu hakikat bahwa ‘matinya ideologi’ adalah ideologi di dalam wujud lain.

Di tingkat praksis, pergerakan wacana pemikiran tersebut mewujud pada dilema ideologis yang dihadapi oleh partai-partai politik modern, di satu sisi partai politik berkepentingan untuk membumikan (kembali) nilai-nilai ideologis yang digunakannya sebagai asas politik, di sisi yang lain secara bersamaan, partai politik harus pula membuktikan vitalitas nilai-nilai tersebut pada tataran kebutuhan yang sangat pragmatis.

Adanya kebutuhan merepresentasikan Islam politik di panggung politik nasional telah mendorong PPP (Paratai Persatuan Pembangunan) misalnya, untuk kembali ke ‘khittahnya’-nya, yakni menempatkan ‘Islam’ sebagai asas partai dan ‘ka’bah’ sebagai lambang parta. Keputusan ini menghadapkan partai pada suatu tantangan dilematis, kebutuhan tentang suatu ideologi visioner bagi perjuangan umat Islam, harus berhadapan secara diametral dengan kebutuhan pragmatis perihal representasi politik PPP di dalam percaturan politik nasional. (Muhammad Widad)

Source : Politik Islam Politik (Pergulatan Ideologis PPP Menjadi Partai Islam) oleh Abdul Aziz

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: